menggugat sekuarisme

MENGGUGAT SEKULARISME

Dunia hari ini serasa begitu sempit seiring pesatnya perkembagan tekhnologi yang semakin canggih yang mampu mengubah kehidupan manusia dan sangat memanjakan manusia dengan segala kemudahan yang ada. Transformasi informasi maupun komunikasi begitu cepat tersampaikan walau harus melintasi belahan bumi yang sangat jauh dan memakan waktu sangat lama bila di tempuh hanya dengan berjalan kaki. Begitu pula halnya penyebaran sebuah paham yang tercetus jauh di suatu tempat dapat segera sampai ketempat lainya hanya dalam waktu yang tidak terlalu lama. Hal ini yang terjadi pula pada penyebaran paham sekularisme yang telah lama menjadi perhatian dan perdebatan beberapa kalangan di tanah air, baik dari yang pro maupun yang kontra terhadap paham ini.

Telah menjadi suatu konsensus umum bahwa makna sekularisme adalah sebuah paham yang menginginkan pemisahan antara hal – hal yang mengandung makna duniawi dengan hal – hal yang berbau ukhrawi (akhirat). Hal ini yang kemudian mengakibatkan timbulya reaksi terhadap paham ini dari kalangan yang tidak menginginkan sampai terjadinya pemisahan antara kedua hal tersebut di atas tadi. Terlebih dari kaum agamawan yang melihat sekularisme sebagai suatu paham yang sangat berbahaya terhadap eksistensi nilai – nilai setiap agama yang ada di muka bumi ini. Di Indonesia contohnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) bahkan sampai mengeluarkan fatwa haram terhadap paham yang satu ini. Betapa tidak bila kita lihat dari maknanya di atas, sungguh sekularisme adalah suatu paham yang secara sistemik berusaha untuk memarjinalkan nilai – nilai mutlak kebenaran agama untuk digantikan dengan nilai – nilai hedonis yang sangat bertentangan dengan tata kelakuan (mores)  maupun adat istiadat (custom) ketimuran yang telah terinstitusionalkan secara sosial di masyarakat Indonesia selama ini. Walaupun ada pihak – pihak yang mengamini bahkan mengusahakan diterimanya paham ini di tanah air, tak syak lagi kepada mereka telah dilabelkan sebagai orang – orang liberalis yang menyandang konotasi negatif ditelinga masyarakat Indonesia.

Bila kita mencoba menilik kebelakang sekitar tahun 1300 sebelum Renaissance pertama kali muncul di Italia, gereja dalam hal ini imam – imam kristen memiliki status sosial yang sangat tinggi di Eropa. Secara strata, mereka berada pada posisi ke dua setelah raja dan keluarganya. Gereja tidak hanya berdiri sebagai pusat spiritual keagamaan yang bertugas mengingatkan manusia tentang nilai – nilai transenden dan etika kekristenan, tapi juga muncul sebagai satu kekuatan politik laten yang mengatasnamakan kebenaran agama sebagai landasan pijak dalam menapaki panggung kekuasaan di Eropa pada masa itu. Tidak jarang terjadi, suara gereja lebih di dengar di banding suara seorang raja. Imam – imam kristen dijadikan penasehat utama kerajaan, di mana hal ini semakin menguatkan adanya indikasi intervensi gereja dalam setiap keputusan yang diambil oleh seorang raja. Hal ini nampak jelas ketika gereja berkeputusan mengkafirkan Nikolaus Copernicus dan menahan rumahkan Gallileo Gallilei yang menguatkan hipotesa Heliosentris nya Copernicus (bumi sebagai pusat tata surya) yang pada saat itu merupakan hipotesa yang sangat berlawanan dengan arus ajaran gereja, dimana pada saat itu gereja mengajarkan paham Geosentris (bumi sebagai pusat tatasurya) yang salah. Pada akhirnya dan sampai saat ini banyak fakta yang membuktikan kebenaran hipotesa heliosentris sehingga masyarakat Eropa mulai meninggalkan ajaran lama gereja yang mendoktrinkan paham geosentris. Selain contoh di atas masih banyak lagi kesalahan – kesalahan ajaran gereja yang pada akhirnya menimbulkan ketidakpercayaan umat kristen Eropa terhadap imam – imam mereka, yang pada akhirnya orang Eropa dikarenakan pengaruh Yunani yang begitu cinta kepada rasionalitas sedikit demi sedikit mulai meninggalkan ajaran – ajaran gereja yang menurut mereka sarat dengan unsur metafisik. Ditandai dengan derasnya arus Renaissance yang menyapu seluruh daratan Eropa, telah membawa banyak perubahan besar terhadap kehidupan masyarakat Eropa. Hal ini disertai pula dengan perubahan sturktur masyarakat yang menghadirkan sebuah strata baru yakni kaum cerdik cendikia yang telah banyak merubah wajah masyarakat Eropa hingga saat ini. Perubahan ini terjadi seiring dengan adanya penemuan – penemuan baru yang mengakibatkan beralih pentingnya tenaga manusia ke tenaga mesin (revolusi industri), dan munculnya paham – paham baru yang menjadikan masyarakat Eropa benar – benar mencintai tradisi humanistik dan rasionalitas yang tinggi. Hal ini yang mengakibatkan munculnya pemikiran untuk memisahkan agama yang menurut mereka mengandung unsur kefirmanan transendental dengan kehidupan duniawi yang penuh dengan rasionalisasi dan empiristis, Paham ini yang sekarang kita kenal dengan Sekularisme.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: